Menu

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label diabetes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diabetes. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 April 2010

Diabetes itu?

Begitu seseorang divonis menderita diabetes, itu berarti sudah saatnya ada titik balik perubahan gaya hidupnya. Pengendalian faktor resiko merupakan kunci utama. Tanpa perbaikan pola hidup diimbangi dengan pengobatan, berbagai komplikasi penyakit lain akan mengancam.

Diabetes (kencing manis) adalah penyakit di mana tubuh penderitanya tidak bisa mengendalikan tingkat gula (glukosa) dalam darahnya. Jadi penderita mengalami gangguan metabolisme dari distribusi gula oleh tubuh sehingga tubuh tidak bisa memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup atau tidak mampu menggunakan insulin secara efektif. Akibatnya, terjadi kelebihan gula di dalam darah tersebut melimpah ke sistem urine.

Selasa, 06 April 2010

Satuan ukuran gula darah mmol/L dan mg/dL


Jika anda sering membaca artikel-artikel tentang diabetes atau kencing manis, anda pasti akan menemukan ada 2 satuan ukuran kadar gula darah yaitu:
  1. mmol/L (millimoles/liter)
  2. mg/dL (milligrams/deciliter)

Kedua satuan ukuran diatas adalah satuan ukuran gula darah, anda tidak perlu bingung. Tapi kadangkala memang membingungkan penderita diabetes.
Yang pertama adalah satuan ukuran internasional yang diakui dunia dan sangat umum dipakai didalam jurnal-jurnal ilmiah tentang diabetes, sedangkan yang kedua adalah sistim Amerika.

Minggu, 06 September 2009

Kenali Penyakit Diabetes Sejak Dini

Penyakit Diabetes mellitus (DM) atau yang sering disebut sebagai kencing manis merupakan satu dari sekian penyakit metabolik yang prevalensinya meningkat setiap tahunnya. Jadi jangan pernah anggap remeh akan penyakit ini, karena siapapun dapat terkena penyakit ini.

Apabila seseorang sudah mengidap diabetes, maka seumur hidupnya ia akan sangat tergantung kepada obat-obatan dan tentunya harus selalu menjaga asupan makanan dan pola hidup. Data Departemen Kesehatan RI menunjukkan, prevalensi DM sekitar 1,5-2,3% dari populasi usia di atas 15 tahun.

Sedangkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) memaparkan, pada tahun 1995, di Indonesia terdapat sekitar 5 juta penderita DM. Sehingga, dengan asumsi prevalensi DM 4%, diperkirakan pada tahun 2020 penderita DM di Indonesia akan mencapai 12 juta orang. Hal ini harus kita sadari sejak dini sehingga upaya pencegahan pun dapat dilakukan.

Terdapat dua tipe DM yang umum terjadi di Indonesia, pertama adalah DM yang bergantung pada insulin (insulin-dependent diabetes mellitus), disebabkan karena destruksi sel beta langerhans akibat proses auto imun (tidak diketahui sebabnya) sehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Diabetes tipe ini dapat diderita pada anak-anak maupun dewasa.

Tipe DM yang kedua adalah DM yang tidak bergantung pada insulin (non-insulin-dependent diabetes mellitus) akibat dari kegagalan relatif sel beta langerhans sehingga terjadi resistensi terhadap insulin (sensitifitas insulin berkurang).

Penyebab pasti dari penyakit ini tidak diketahui namun dicurigai salah satunya akibat kegemukan (overweight). Diabetes mellitus (DM) yang timbul akibat kegemukan ini biasanya terjadi pada usia lanjut atau diatas 40 tahun.

Melakukan diagnosa pada penderita DM tidaklah sulit, antara lain adanya keluhan sering buang air kecil (polyuria) terutama pada malam hari, sering merasa haus (polydipsi), sering merasa lapar (polyfagi), badan mengurus serta lemas merupakan cara kita untuk mengetahui seseorang tersebut terkena DM atau tidak. Terlebih apabila hasil pemeriksaan gula darah menunjukkan angka yang melebihi 200 mg/dl, maka seseorang tersebut sudah bisa dipastikan mengidap DM.

Kamis, 27 Agustus 2009

Testimony PLASHITABA

H. Lono Prayogo
Pemilik ALTO MOTOR, Jl Magelang 126 Yogyakarta
Telp. (0274) 556508, HP 0812 2665 655

Pada tanggal 12 April 2007 oleh dokter saya divonis diabetes dengan glukosa puasa 334 mg/dl dan glukosa 2 jam PP 459 mg/dl. Saya sangat terpukul dan terguncang bahkan sampai pada kondisi keimanan yang rendah. Karena pasien diabetes tidak boleh makan seenaknya maka saya kemudian konsultasi kepada ahli penyakit dalam di Gayam selama ±1 jam. Pada intinya dokter tersebut mengatakan bahwa diabetes tidak ada obatnya. Saya merenung bagaimana caranya agar sehat kembali, akhirnya saya mencoba bersahabat dengan penyakit saya yaitu dengan pengaturan pola makan. Kemudian saya bertemu dengan sahabat saya yang sangat ahli dengan dengan pengobatan secara holistic (integrated) dan dari situlah saya menemukan perpaduan antara pengobatan barat dan timur (tradisional). Akhirnya saya memutuskan untuk tidak memakai obat-obatan kimia lagi. Karena obat-obatan kimia akan berefek pada organ lain misalnya jantung, ginjal dan hati. Dan saya yakin akan menggunakan obat alami. Saya kemudian mengikuti training holistic di Bandung, dan semakin yakin untuk menjadi dokter untuk diri sendiri dan mendapatkan dokter sebagai pendiagnosis suatu penyakit. Saya kemudian mulai mengkonsumsi PLASHITABA dengan dosis 3x2 kapsul selama 1 bulan, kemudian konsumsi PLASHITABA dikurangi menjadi 2 kali sehari kemudian ditambahi dengan mengkonsumsi nutrisi alami lainnya. Pada pemeriksaan glukosa puasa pada bulan kedua menunjukkan angka 121 mg/dl dan HBA 1c menunjukkan angka 9,4%. Konsumsi PLASHITABA terus dilanjutkan dengan dosis 3x3. Pada pemeriksaan Bulan Juli glukosa puasa saya menunjukkan angka 87 dimana normalnya antara 70-110 mg/dl dan angka HBA 1c-nya menunjukkan 6,7%, hal itu sudah mendekati normal dimana angka normalnya 4,5-6,3%. Saya kini masih mengkonsumsi PLASHITABA dengan dosis yang dikurangi, setiap hari sebelum beraktifitas untuk peningkatan energi. Olahraga juga terus dilakukan setiap hari. Dari pola pengobatan yang saya lakukan, disamping diabetesnya sembuh juga berat badan saya kini menjadi turun (proporsional) dari 89 kg menjadi 69 kg.
Bagi saudara saya yang kebetulan menderita diabetes saya sangat gembira jika berminat sharing kesehatan dengan saya. Semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan yang sangat berharga kepada kita semua, Amiin.

Data Pemeriksaan Gula Darah
12 April 2007
Gula darah Puasa 334 mg/dl
Gula darah 2 Jam PP 459 mg/dl
HB 1c -

16 April 2007
Gula darah Puasa 214 mg/dl
Gula darah 2 Jam PP 217 mg/dl
HB 1c -

3 mei 2007
Gula darah Puasa 121 mg/dl
Gula darah 2 Jam PP -
HB 1c 9,4%

25 mei 2007
Gula darah Puasa 113 mg/dl
Gula darah 2 Jam PP -
HB 1c 7,4%

9 Juli 2007
Gula darah Puasa 87 mg/dl
Gula darah 2 Jam PP -
HB 1c 6,7%

Sabtu, 15 Agustus 2009

Ahli Terapi: Obat Herbal Lemahkan Racun

Ahli pengobatan alami (herbal) Reno Wilopo menyatakan bahwa obat tradisional berfungsi melemahkan racun dalam proses penyembuhan penyakit pada manusia.

“Obat herbal berfungsi mengawasi, termasuk membunuh kandungan racun dalam tubuh manusia,” kata Reno Wilopo di Jakarta, Selasa.

Reno mengatakan obat tradisional mampu membentuk zat kekebalan tubuh (antibodi) yang tidak terdapat dalam tubuh manusia, dengan tujuan melindungi dari unsur yang merusak organ tubuh.

Jenis tanaman yang memiliki khasiat penyembuhan penyakit, antara lain mahkota dewa, kunyit putih, jahe, lengkuas, bawang putih, daun sirih dan sambiloto.

Reno menuturkan jenis penyakit yang dapat disembuhkan di antaranya, jantung, hepatitis (gangguang hati), kanker, tumor dan penyakit berat lainnya.

Membandingkan obat herbal dengan obat medis yang berdasarkan resep dokter, Reno mengatakan, masing-masing memiliki keunggulan untuk menyembuhkan penyakit.

Perbedaannya yakni satu jenis obat medis secara spesifik menyembuhkan satu penyakit, sedangkan obat herbal mampu menjadi penawar rasa sakit berbagai jenis penyakit.

“Obat herbal secara medis memperbaiki jaringan tubuh yang rusak,” kata Reno seraya mencontohkan ramuan mahkota dewa mampu penyembuhkan penyakit kanker, tumor, dan jantung.

Lebih lanjut, Reno menilai obat medis lebih mengoptimalkan darah sebagai indikator dan menjaga agar darah normal secara klinis (pemeriksaan laboratorium), namun tanpa mempedulikan dampaknya terhadap kerusakan organ tubuh lainnya.

Contohnya penyuntikan cairan insulin untuk penderita diabetes berpotensi menyebabkan rusaknya kelenjar tubuh yang biasanya memproduksi insulin.

Sementara itu, anggota Asosiasi Pengobat Tradisional Ramuan Indonesia Joko Suryanto mengatakan terapi obat ramuan tradisional bermanfaat untuk memperbaiki sel-sel organ tubuh yang rusak akibat radang dengan penyembuhannya bersifat permanen.

Reno dan Joko mengharapkan pemerintah segera membuat kebijakan untuk mendorong penelitian ramuan tradisional asal Indonesia agar mendapatkan pengakuan dari dunia. (*)

Sumber: Antara News | Jakarta - 20/05/09 14:55

PLASHITABA mengobati diabetes tipe 2 dengan cara memperbaiki sistem metabolisme tubuh. Kandungan ekstrak lumbricus rubellus dan ashitaba bekerja sama untuk membuang racun penyebab diabetes, menormalkan kadar gula dalam darah dan kemudian meregenerasi sel-sel serta organ yang terkait dengan penyebab diabetes.

Obati Diabetes Lewat Insulin Tidaklah Cukup

Hingga kini diketahui, pengobatan bagi penderita diabetes dilakukan dengan memberikan insulin agar dapat mengatur kadar gula darah dalam rentang normal. Namun, pemberian insulin diyakini tidaklah cukup untuk menyembuhkan diabetes. Demikian diungkapkan Ketua Divisi Metabolik dan Endokrin, Departemen Penyakit Dalam FK UI, Prof. Sidartawan Soegondo di Jakarta, awal pekan ini.

Dikatakan Sidarta, insulin hanya bertugas memasukan glukosa ke dalam sel. Disamping memproduksi insulin, tubuh juga memproduksi glukagon. Hormon ini memiliki sifat bertolak belakang dengan insulin. Artinya, ketika tubuh penderita diabetes memproduksi hormon insulin secara terbatas maka keadaan berbalik dimana produksi hormon glukagon meningkat sehingga kadar glukosa dalam darah turut meningkat.

Pada orang normal atau tidak diabetes, insulin bekerja untuk meningkatkan pengambilan glukosa selular, dengan begitu terjadi penurunan kadar glukosa dalam plasma. Sementara itu, glukagon bekerja meningkatkan kadar glukosa plasma dengan cara meningkatkan produksi glukosa hati (hepatic glucose production – HGP) dan glukoneogenesis. Peningkatan konsentrasi glukosa dalam plasma akan memberikan sinyal untuk sekresi insulin dan sekresi glukagon, sehingga terbentuk keseimbangan glukosa normal.

Tak hanya itu, di dalam tubuh juga terdapat hormon inkretin yang berperan dalam mengatur kadar gula darah. Hormon ini terdiri dari GLP-1 (glucagon-like peptide-1) dan GIP (glucose-dependent insulinotropic polypeptide). Dua inti Hormon ini berfungsi untuk mengatur kontrol glukosa darah dan memperbaiki fungsi keseimbangan antara glukagon dan insulin.

“Pada penderita diabetes tipe 2, terjadi kekurangan inkretin sehingga keseimbangan glukagon dan insulin terganggu. Kurangnya jumlah inkretin diibaratkan kunci (insulin) untuk membuka pintu (Glukagon) agar glukosa masuk dalam sel tidaklah pas. Ini yang lebih rumit lagi,” tuturnya. Tidaknya pas kunci tersebut, lanjutnya, dikarenakan penghambatan DPP-4 (Dipeptidly Peptidase-4), sejenis Protein yang memecah sistem sel beta dan alfa pada pankreas.

Selain itu, kata dia, kacaunya keseimbangan insulin dan glukagon meningkatkan lipolisis dalam tubuh. Lipolisis merupakan bentuk pemecahan kadar lemak. Sekresi itu mengakibatkan peningkatan kadar asam lemak dalam darah. Apabila efek liposis disertai dengan defisiensi insulin yang berat dapat menyebabkan terjadinya ketosis.

Ketosis merupakan akibat dari metabolisme yang tidak lengkap terhadap asam lemak. Tubuh membentuk fragmen asam lemak menjadi substansi yang disebut keton. Keton merupakan racun bagi sistem tubuh dan tubuh mengeluarkannya melalui urine. “ini yang bisa berbahaya bagi ginjal karena bisa menyebabkan gagal ginjal,” tuturnya.

Sidarta lantas menggaris bawahi diabetes tidak hanya sebatas diobati dengan terapi insulin saja. Tapi juga diikuti dengan terapi lain yang berfungsi menyeimbangkan hormon-hormon yang terkait dengan diabetes. “Tentu menjadi pekerjaan rumah bagi kita, banyak hal yang harus kembali dipelajari,” kata dia.

Pengobatan menyeluruh diibaratkanya mengatu rpola makanan. Seperti diketahui, bagi penderita diabetes harus memperhatikan tiga hal yakni kadar kolesterol, tekanan darah dan kadar gula, sebab saling berhubungan satu dengan yang lain.

Dia mencontohkan, untuk menjaga kadar gula maka penderita diabetes harus meminimalisir konsumsi makanan yang bersifat manis, lantas turut diperhatikan pula hal bersifat asin untuk mengkontrol tekanan darah. Sedangkan, menghindari makanan berminyak harus dilakukan sebagai upaya mencegah tingginya kadar kolesterol dalam darah.”Jika hanya menghindari manis, lantas buat apa” kata dia.

Menurutnya, penderita diabetes bukan mengurangi pola makan melainkan mengatur sedemikian rupa asupan makanan dengan kadar kandungan yang seimbang.”Paling tidak itu lebih baik karena masih memiliki takaran yang jelas. Hal lain yang menurut saya berbahaya karena tidak memiliki takaran adalah merokok,”pungkasnya. (cr2/rin)

Sumber: Republika Online | Rabu, 15 Juli 2009 pukul 08:03:00
http://www.republika.co.id/berita/62411/Hadapi_Diabetes_Tak_Cukup_Insulin

PLASHITABA mengobati diabetes tipe 2 dengan cara memperbaiki sistem metabolisme tubuh. Kandungan ekstrak lumbricus rubellus dan ashitaba bekerja sama untuk membuang racun penyebab diabetes, menormalkan kadar gula dalam darah dan kemudian meregenerasi sel-sel serta organ yang terkait dengan penyebab diabetes.